Percik air utusan langit tak jua turun ke bumi
yang slalu ditunggu untuk membasahi bunga yang hampir mati
seakan sama dengan hatiku yang slalu menantimu yang tak pernah bisa kumiliki
tetesan embun terhempas angin kelabu
seperti dirimu yang trus berlalu dariku
senjapun tak sesilau semestinya
karna malam tlah mengutus hujan tuk mengahalangi sinarnya
bayangmu semakin redup lalu begitu saja pergi
sejajar dengan kilau senja saat ini
dalam gelapnya malam, ingin ku ucapkan rintihanku
bahwa . . . ,
kepergianmu menghancurkan perasaan ku .....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar